EDSUS HUT 80 RI

Menjaga Tren Surplus Neraca Perdagangan

Jum, 15 Agu 2025

HINGGA semester I 2025, Kementerian Perdagangan mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$19,48 miliar di tengah dinamika ekonomi global yang masih menghadapi gejolak.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan hal itu menjadi bukti ekonomi nasional masih tangguh dan berdaya tahan.
Untuk daya saing ekspor nasional, kinerja ekspor semester I 2025 tumbuh 7,70% secara tahunan (yoy), melampaui target pertumbuhan ekspor nasional untuk 2025 sebesar 7,10%.
"Peningkatan ekspor ditopang kondisi perdagangan global yang lebih kondusif akibat kesepakatan dagang AS dan Tiongkok. Selain itu, membaiknya pertumbuhan ekonomi sejumlah negara pada triwulan II 2025, seperti AS yang tumbuh 3,00%, Tiongkok 1,10%, dan Singapura 1,40% (qtq) turut mendorong peningkatan ekspor," papar Budi dalam konferesi pers di Jakarta, belum lama ini.
Sementara itu, impor Indonesia pada semester I 2025 mencapai US$115,94 miliar atau tumbuh 5,25% (ctc). Peningkatan itu didorong oleh impor nonmigas yang naik 8,60% menjadi US$100,07 miliar.
Struktur impor semester I 2025 masih didominasi bahan baku/penolong dengan pangsa 71,38%, diikuti barang modal (19,84%) dan barang konsumsi (8,78%).
Jika dibandingkan dengan semester I 2024, terjadi kenaikan impor barang modal sebesar 20,90% dan impor bahan baku/penolong sebesar 2,56% (ctc), sedangkan impor barang konsumsi turun 2,47%.
Menurut Mendag, kinerja impor itu menunjukkan mulai pulihnya industri nasional.
"Kenaikan impor bahan baku/penolong mencerminkan sinyal positif bahwa industri berjalan baik. Kami harap, kenaikan impor ini dapat berkontribusi pada kinerja ekspor industri manufaktur pada bulan mendatang," imbuhnya.

PENGUATAN AKSES PASAR
Mendag menekankan, penguatan kinerja perdagangan 2025 ditempuh melalui penyelesaian sejumlah perundingan perdagangan internasional. Beberapa target utama pada 2025 meliputi penyelesaian Indonesia–Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), penandatanganan Indonesia–Kanada CEPA, penyelesaian Indonesia–Peru CEPA, serta penandatanganan Indonesia–Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) CEPA dan Indonesia–Tunisia Preferential Tariff Agreement (PTA).
Selain itu, terdapat sejumlah perundingan yang masih berlangsung, seperti Indonesia-Gulf Cooperation Council (GCC) Free Trade Agreement (FTA), ASEAN–Kanada FTA, Indonesia–Turki PTA, Indonesia–Sri Lanka PTA, dan Indonesia–Mercosur CEPA.
"Tahun ini, sudah banyak terselesaikan perjanjian dagang. Selanjutnya, kita akan masuk ke pasar Afrika. Mudah-mudahan, paling tidak, tahun ini sudah mulai pendekatan-pendekatan ke negara Afrika," ujarnya.

SIAPKAN STRATEGI
Sementara itu, untuk merespons kebijakan tarif resiprokal oleh AS, Kemendag telah menyiapkan serangkaian strategi untuk melindungi pasar dalam negeri, sekaligus memperkuat posisi ekspor Indonesia di pasar global. Strategi itu sekaligus bertujuan menjaga keberlanjutan industri nasional serta meningkatkan daya saing produk Indonesia di tengah dinamika perdagangan internasional.
Langkah-langkah yang ditempuh antara lain intensifikasi perundingan dan diplomasi dengan AS, penataan kebijakan perdagangan, pengamanan pasar dalam negeri dan keberlanjutan industri nasional, serta optimalisasi kebijakan instrumen seperti Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) dan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) regional dan multilateral.

Pacu UMKM
Kemendag juga terus mendorong pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masuk ke pasar ekspor melalui Program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor. Budi menegaskan komitmen Kemendag dalam penguatan daya saing melalui program tersebut.
Kemendag pun telah menggelar penjajakan kerja sama bisnis (business matching) rutin, baik secara daring maupun luring, dengan melibatkan 46 perwakilan perdagangan di 33 negara akreditasi.
Sepanjang Januari–Juli 2025, telah terlaksana 410 business matching, terdiri atas 268 presentasi bisnis (pitching) dan 142 pertemuan dengan buyer. Kegiatan itu telah menghasilkan potensi transaksi US$90,04 juta, terdiri atas potensi transaksi sebesar US$34,95 juta dan pesanan (purchase order) US$55,09 juta.
"Sekitar 70% dari UMKM yang difasilitasi melalui business matching dengan perwakilan perdagangan di luar negeri belum pernah ekspor. Jadi, ini sesuatu yang bagus untuk meningkatkan atau membuat UMKM bisa naik kelas," ucap mendag.

PASAR BARU
Pada kesempatan lain, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan perluasan pasar ekspor merupakan salah satu strategi prioritas Indonesia dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, strategi ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasar utama, sekaligus memanfaatkan besarnya populasi dan daya beli di pasar-pasar baru tersebut.
"Selain mempertahankan akses pasar yang ada, Indonesia juga terus membuka akses pasar baru. Diversifikasi pasar merupakan kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekspor sebesar 7,1% di tengah tantangan global," ujar Roro.
Ia mengutarakan, Indonesia memiliki 21 perjanjian perdagangan berupa perjanjian perdagangan preferensial (preferential trade agreement/PTA), perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA), dan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (comprehensive economic partnership agreement/CEPA) dengan 30 negara mitra hingga saat ini.

Pada periode Januari-Juni 2025, neraca perdagangan surplus US$19,48 miliar. Angka tersebut naik US$3,90 miliar jika dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai ekspor sepanjang Januari-Juni 2025 tercatat US$135,41 miliar, lebih tinggi ketimbang impor yang mencapai US$115,94 miliar.
Untuk Juni 2025 saja, nilai ekspor mencapai US$23,44 miliar dan nilai impor mencapai US$19,33 miliar yang berarti surplus sebesar US$4,10 miliar.
Anggota Komisi VI DPR RI Ahmad Labib menyebut capaian surplus 62 bulan berturut-turut sebagai sinyal positif atas daya saing ekspor nasional. Namun ia juga menggarisbawahi pentingnya membaca angka surplus itu secara utuh dan berimbang.
"Surplus perdagangan adalah kabar baik. Tapi kita juga harus jujur melihat bahwa surplus ini masih bertumpu pada ekspor komoditas mentah dan setengah jadi, bukan dari diversifikasi sektor manufaktur bernilai tambah tinggi," ujarnya.
Labib mendorong pemerintah menjadikan momentum surplus perdagangan itu sebagai pijakan awal, terutama dalam mendorong transformasi industri nasional yang tangguh dan berkelanjutan.
Menurut dia, strategi yang harus ditempuh meliputi penguatan sektor manufaktur bernilai tambah tinggi dan peningkatan kapasitas industri substitusi impor untuk mengurangi ketergantungan luar negeri. Kemudian, diversifikasi ekspor guna menghadapi volatilitas harga komoditas global, serta percepatan hilirisasi sumber daya alam dengan pend....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement