PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah. Sebelum salat dimulai, sebagaimana biasanya, didahului dengan 'kultum'. Mestinya 'kuliah tujuh menit'. Namun, nyatanya, kerap lebih dari 15 menit. Tak mengapa. Apalagi, isinya menarik.
Sang penceramah, seorang doktor yang mengajar di sebuah perguruan tinggi, mengatakan bahwa ketika Ramadan telah berlalu, ia meninggalkan jejak-jejak spiritual yang semestinya tak sekadar menjadi memori musiman. Persoalannya, kata penceramah, mampukah kita merawat spirit itu saat fajar Syawal menyingsing?
"Ini bukan sekadar pertanyaan teologis tentang diterima atau tidaknya ibadah kita, melainkan sebuah tantangan eksistensial, yakni sejauh mana nilai 'menahan diri' mampu menjadi perisai di tengah gempuran ketidakp....

