WEEKEND

Nafsu Aluamah

Min, 10 Apr 2022

LIMBUK mesam-mesem (tersenyum) sendiri saat memarut singkong untuk dibuat lemet. Tampaknya ada yang lucu di benaknya. Gelagat tak biasa itu menjadi perhatian Mak Cangik yang saat itu juga sedang meracik menu berbuka puasa.
Batin Limbuk menggumam fenomena bergesernya suasana dan nuansa yang dulu serba religius tulen setiap bulan puasa, tetapi kini terasa lebih dominan pada ritual konsumtifnya. Zaman berubah, termasuk dalam menyambut bulan penuh berkah.
“Ada apa Nduk (genduk), kok senyum-senyum sendiri?” tanya Cangkik. “Hati-hati, nanti tangannya terparut!”
“Nggak apa-apa kok, Mak. Cuma bawaannya mau tertawa sendiri melihat perilaku masyarakat setiap bulan puasa tiba.”
“Maksudnya yang mana?”
Limbuk mengatakan, setiap bulan puasa makanan dan minuman berlimpah. Dari menjamurnya penjual takjil di jalan-jalan saat matahari mulai condong ke barat hingga toko kecil sampai besar serta pasar swalayan yang menjajakan bahan makanan bergunung-gunung.
Di sisi lain, masyarakat selalu menyambut dengan adat khusus. Seperti sudah menjadi keharusan selama bulan Ramadan mesti ada sajian berbuka yang tidak biasa, yang serba segar dan nikmat. Euforia berpesta terasa di mana-mana.
“Banyak warga yang pagi-pagi sudah merancang menu berbuka. Ngenak-ngenake, membuat makanan-minuman spesial. Anggaran rumah tangga jadi meningkat.”
Di kota-kota, banyak warga yang jauh-jauh hari booking tempat di restoran untuk berbuka. Antrean panjang juga mengular di rumah-rumah makan favorit untuk mendapat giliran berbuka. Bahkan, tidak jarang terjadi pertengkaran sesama pelanggan hanya karena memperebutkan kursi dan meja makan.
“Kan, ramai dan gayeng ta, Nduk,” ujar Cangik sambil tersenyum.
“Iya, Mak, meriah abis.”
Belum lagi, lanjutnya, soal aktivitas berbuka bersama. Ini kebiasaan yang sudah menjamur di mana pun. Ingar-bingar Ramadan lebih banyak dilukisi dengan ‘ritual-ritual’ yang ‘terkonsentrasi’ pada urusan isi perut.
“Apa ada yang salah, Nduk?”
“Ya, bagaimana kalau melihat kenyataan itu, Mak. Salah sih, ya nggak juga. Tapi, mohon maaf, kesannya berpuasa kok nafsu aluamahnya malah ngambra-ambra (tak terkendali). Padahal, berpuasa itu, katanya, meper (menahan) segala hawa nafsu.”
Limbuk juga bercerita tentang kebiasaan temannya setiap menjelang berbuka. Rekannya itu gemar membeli atau kadang membuat bermacam-macam menu berbuka menuruti imajinasi kenikmatan lidah. Tapi, ketika waktu berbuka tiba, banyak yang tidak terkonsumsi sehingga mubazir.
Cangik tidak membantah celotehan putri semata wayangnya itu. Ia merasakan saat ini memang berbeda dengan zaman dahulu. Ketika dirinya masih muda, tidak ada kebiasaan merayakan Ramadan dengan menggelorakan urusan perut, ora ilok (tidak pantas).
Perempuan paruh baya itu mengenang, kala itu kebiasaan semua warga berbuka dengan menu apa adanya, tanpa perlu mengada-ada. Nuansa keprihatinan (ibadah) begitu merasuk sehingga setiap warga tampak begitu istikamah menjalankan kewajibannya berpuasa.
Benak abdi dalem Istana Amarta itu mencari jawaban, mungkinkah perubahan ini karena terkait dengan kondisi ekomoni masyarakat yang dulu serba terbatas, sedangkan kini serba terjangkau. “Ah… kiranya bukan itu penyebabnya,” pikirnya.
Menurut Limbuk, akibat polah masyarakat yang konsumtif pada setiap bulan puasa, harga hampir semua bahan makanan melonjak. Puncaknya terjadi beberapa hari menjelang Lebaran. Kondisi ini terus berulang setiap tahunnya.
“Coba renungkan, Mak. Bulan puasa kok jumlah kebutuhan makanan malah melonjak. Menurut nalar, mestinya berkurang karena berpuasa itu maknanya juga mengurang-ngurangi. Ini juga lucu kan, Mak.”
Konsekuensinya, setiap menjelang Ramadan tiba, pemerintah mesti menjamin ketercukupan semua bahan makanan. Konon, hal itu harus dilakukan juga untuk menjaga ketenangan serta kekhusyukan umat menjalankan ibadah puasa.
Cangik memang mendapati hampir semua bahan makanan di pasar-pasar harganya naik. Bahkan, untuk bahan pangan tertentu harganya melangit. Tampaknya semua sudah menganggap kondisi seperti itu merupakan kewajaran.
“Nduk, tadi kamu menyinggung nafsu aluamah. Setahumu apa itu?”
“Mak kan sudah paham!”
Menurut piwulang almarhum bapaknya, Limbuk menjelaskan, aluamah adalah nafsu yang menimbulkan keinginan makan dan minum berlebihan. Pengabdi nafsu aluamah tandanya gemar makan-minum yang enak-enak dan tidak pernah puas.
Mendengar keterangan Limbuk, Cangik tersenyum dan manggut-manggut. “Malah seharusnya, berpuasa itu bukan hanya mengendalikan nafsu aluamah saja, Nduk, tetapi juga nafsu-nafsu lainnya.”
“Nafsu lainnya itu apa, Mak?”
Selain aluamah, kata Cangik, ada nafsu amarah dan supiah. Amarah adalah keinginan selalu marah dan mudah tersinggung, sedangkan supiah adalah nafsu gandrung keindahan yang juga menimbulkan berahi tanpa batas kepuasan. Tiga nafsu itu mesti dikendalikan, bukan hanya ketika Ramadan, tetapi sepanjang hayat.
Masih ada satu lagi, lanjutnya, yakni mutmainah. Nafsu ini mengandung kesabaran dan menimbulkan keinginan membantu orang atau pihak lain. Nafsu ini yang mesti terus diaktualkan dan dikembangkan, tetapi tetap dalam kendali.
“Intinya, Nduk, hidup ini mesti dijalani dengan berpuasa. Maksudnya, hidup ini harus dalam kendali diri. Jangan sebaliknya, hidup dikuasai oleh nafsu karena sesungguhnya nafsu itu menjerumuskan,” wanti-wantinya.
Selanjutnya Cangik mengajak semuanya untuk berpuasa dengan benar. Berpuasa bukan sekadar menahan haus-lapar dan hawa nafsu yang lain sejak pagi hingga matahari terbenam, tetapi mesti menyerap hakikatnya.
“Jangan sampai berpuasa hanya kewajiban simbolik. Ibadah ini harus benar-benar diniatkan dan dijalankan sesuai dengan ajarannya sehingga setiap umat menjadi insan-insan yang sehat jasmani dan rohani.” (M-2)

....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement