OPINI

NU dan NKRI: Menjaga Kalimatun Sawa di Tengah Kepungan Algoritma dan Pragmatisme

Kam, 05 Mar 2026

DALAM diskursus sosiologi politik Indonesia, relasi antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejatinya melampaui sekadar hubungan administratif formal antara organisasi keagamaan terbesar di dunia dan struktur negara modern. Hubungan itu merupakan sebuah simbiosis mutualisme yang berakar sangat dalam pada dimensi ideologis, historis, teologis, hingga kultural yang tak terpisahkan. NU dan NKRI ialah dua entitas yang saling menggenapi; negara menyediakan ruang bagi tegaknya syiar Islam yang ramah, sementara NU menyuplai legitimasi moral dan teologis bagi konsep kebangsaan.

Di tengah badai disrupsi digital yang mahadahsyat serta penetrasi ideologi transnasional yang kian agresif, upaya memperteguh relasi itu bukan lagi sekadar bentuk romantisme sejarah atau nostalgia atas jasa para kiai di masa lalu. Lebih dari itu, itu ialah kebutuhan eksistensial dan mendesak untuk menjaga perangkat lunak kebangsaan kita. Tanpa jangkar yang kuat dari nilai-nilai moderasi NU, fondasi kebangsaan kita akan menjadi kian rentan terhadap berbagai gangguan eksternal dan internal yang berusaha mendegradasi martabat kemanusiaan dan memecah belah persatuan bangsa.

Secara demografis, posisi NU dalam lanskap sosial Indonesia merupakan fenomena unik. Data sosiologis menunjukkan sekitar 20% warga Indonesia mengaku sebagai anggota struktural NU. Namun, jika mencakup mereka yang mempraktikkan tradisi dan mentalitas nahdiyin (NU kultural), angkanya melonjak hingga 56,9%, atau setara 150 juta jiwa. Angka fantastis itu membawa konsekuensi logis bahwa NU ialah ekosistem sosial....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement