POSKO informasi Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran Sidoarjo, Jawa Timur, masih terlihat dipenuhi banyak keluarga wali santri yang menjadi korban ambruknya musala ponpes tersebut.
Mereka lebih memilih menunggu di posko kawasan ponpes, hingga jenazah anak mereka ditemukan dan teridentifikasi meskipun telah diminta menunggu di Posko Informasi Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim.
Salah satu wali santri yang setia menunggu kabar anak mereka adalah pasangan suami istri Salahuddin, 47, dan Khoyimah, 45. Mereka sudah berada di posko informasi Ponpes Al Khoziny sejak sejak runtuhnya musala ponpes tersebut Senin (29/9), menunggu jenazah putra mereka, Ahmad Syuhaibi,15, ditemukan dan teridentifikasi.
“Sampai anak saya ditemukan dan resmi identifikasi, saya baru akan keluar dari sini,” kata Salahuddin, saat bertemu Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana, yang meninjau posko tersebut kemarin.
Wakil bupati Sidoarjo meminta mereka bersabar, dan berdoa agar proses evakuasi dan identifikasi lancar. “Tetap semangat, bersabar dan berdoa semoga semuanya lancar,” kata Mimik.
Salahuddin dan Khoyimah adalah warga asal Blega, Bangkalan Madura. Anak mereka, Ahmad Syuhaibi sudah satu tahun enam bulan, menjadi santri di Ponpes Al Khozini Sidoarjo. Mereka hanya bisa berharap agar jenazah Syuhaibi ditemukan. Sejak Senin (29/9) hingga Minggu (5/10) mereka tetap bertahan di posko informasi ponpes.
Sementara itu, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim hingga kemarin sore sekitar pukul 16.25 WIB, telah menerima 40 kantong jenazah korban runtuhnya musala Ponpes Al Khoziny. Ke-40 kantong jenazah itu merupakan hasil akumulasi sejak Jumat (3/10). “Termasuk di antaranya tiga body part yang ditemukan Tim SAR Gabungan,” kata Kabiddokkes Polda Jatim Kombes M Khusnan Marzuki di Surabaya, kemarin.
Setibanya di Post Mortem RS Bhayangkara, jenazah langsung diidentifikasi Polda Jatim dan dimasukkan ke dalam cold storage.
Sebelumnya, identitas tiga jenazah korban ponpes ambruk berhasil diidentifikasi oleh tim DVI Polda Jatim pada Sabtu (4/10) malam.
Tiga korban yang berhasil diidentifikasi itu masing-masing adalah Firman Nur, 16, warga Tembok Lor, Muhammad Azka Ibadur Rohman, 13, warga Kenjeran, dan Daul Milal, 15, warga Kapasan. “Ketiga korban diidentifikasi melalui gigi, medis, dan properti, yang cocok dengan data ante mortem,” katanya.
Khusnan juga menyampaikan bahwa proses identifikasi dilakukan berdasarkan beberap....

