SEORANG gadis kecil tampil lusuh di bawah lampu sorot dengan pakaian terusan berwarna merah muda. Tak lama kemudian empat remaja perempuan menghampiri dan mengolok-oloknya dengan kalimat berbau rasialis. Gadis bernama Minah itu hanya terdiam dan menerima. Entah dia sudah bosan dengan ejekan atau tidak paham makna dari kata-kata negatif yang telontar.
Saat Minah diolok-olok, ibu Minah datang menghampiri dan mengusir empat remaja perundung. Saat bersamaan, alunan nada melankolis menggema, sorot lampu pertunjukan pun berubah menjadi biru, syair lagu yang sederhana, tapi penuh motivasi dinyanyikan sang ibu muda. ‘Minah anak ibu, Minah anak baik, ibu enggak bisa kasih banyak, tapi ibu bisa bikin Minah bahagia.’
Begitulah salah satu adegan dalam pagelaran teater musikal bertajuk Perempuan Punya Cerita dari Eki Dance Company yang akan dipentaskan pada 4-7 September 2025 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Teater musikal itu mengangkat tema besar tentang perjuangan hidup perempuan dalam menghadapi ketidakadilan dan tekanan sosial. Pertunjukan itu juga menampilkan dua cerita fiksi yang sangat dekat dengan realitas banyak perempuan Indonesia.
“Ini berbeda dengan drama musikal lain karena kami akan menghadirkan dua musikal dalam satu pagelaran berdurasi sekitar 1 jam dan saya rasa ini tidak pernah dilakukan di Indonesia sebelumnya. Jadi ini adalah dua cerita tentang dua wanita yang terperangkap dalam keadaan yang tidak sempurna, bagaimana perempuan-perempuan yang menderita akibat perundungan,” kata sutradara Ara Ajisiwi, saat ditemui Media Indonesia, Selasa (12/8).
Dijelaskan Ara, dua cerita fiksi yang bakal ditampilkan ialah kisah Jami yang terinspirasi dari film Perempuan Punya Cerita (2007) karya Nia Dinata dan kisah Anya yang terinspirasi dari cerita urban tentang sebuah bangku kosong di sekolah yang dihuni oleh jiwa yang menuntut balas dendam. Kisah Anya akan dihadirkan pada babak pertama, sedangkan kisah Jami akan dimainkan pada babak kedua.
MENGHIBUR DAN MEMBERI ARTI
Pengangkatan tema itu berdasarkan pada semangat untuk menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyuarakan sesuatu yang bermakna dan dekat dengan masyarakat.
“Perempuan Punya Cerita bukan sekadar pertunjukan musikal. Ini adalah ruang pertunjukan sekaligus ruang refleksi. Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan Indonesia adalah perempuan yang kuat, perempuan yang berani memperjuangkan hidup dan harapannya meski di tengah tekanan lingkungan,” ujar Ara yang juga memerankan tokoh Jami.
Produser Alim Sudio berharap penonton tidak hanya terhibur dari penampilan para aktor ataupun cerita yang tersaji, tapi juga bisa memetik pelajaran yang berarti sepanjang menyaksikan pertunjukan.
“Ciri khas musikal Eki ialah menghadirkan fenomena sosial yang relevan bagi masyarakat. Melalui Perempuan Punya Cerita, kami menyuguhkan penceritaan yang segar, tapi bermakna, koreografi yang atraktif, serta visual panggung yang dinamis dan emosional. Lewat pementasan ini, mungkin penonton bisa melihat bayangan diri sendiri, teman, ibu, atau anak perempuan mereka. Dan dari sana timbul ruang refleksi bersama,” tukas Alim.
Kolaborasi antara penceritaan yang segar dan bermakna, koreografi yang atraktif, serta visual panggung yang dinamis dan emosional bakal tersaji di atas panggung sel....

