HARI-HARI ini jagat digital banyak dipenuhi suara lantang perempuan yang mengungkap pengalaman mendapati pelecehan seksual pada usia anak. Mereka mendapati guyuran kasih sayang dari pasangan yang berusia lebih tua dengan tujuan membangun hubungan yang erat, kepercayaan, serta kontrol kuat. Muaranya berupa eksploitasi pada jiwa dan raga.
Fenomena tersebut dikenal sebagai child grooming, prosesnya perlahan dan kerap sulit dikenali. Pelaku lebih dulu menyasar sisi kejiwaan korban dengan membangun kedekatan emosional hingga mendapat kepercayaan. Tersingkapnya fenomena itu didahului rilisnya buku karya aktris Aurelie Moeremans yang berjudul Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah. Aurelie secara lugas menceritakan pengalaman masa remajanya yang mengalami 'penjajahan'. Sangat personal, detail, tetapi tak membuat pembaca mual.
Aurelie membuka cerita dengan lembar trigger warning, mengingatkan bahwa buku itu memuat kisah nyata tentang manipulasi, perundungan, dan kekerasan seksual dan psikologis. Ia meminta agar buku itu dibaca dengan kehati-hatian, sesuai dengan ritme yang membuat pembaca tetap merasa aman dan nyaman. Ia menyadari, bagi para penyintas, itu bisa memicu ingatan kelam dan menguak luka lama. Aurelie mempersilakan pembaca untuk berhenti sejenak jika mulai tidak nyaman, bahkan tak perlu menuntas....

