HUMANIORA

Populasi Badak Jawa Tersisa 100 Ekor

Sel, 23 Sep 2025

KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) menyebutkan populasi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) jumlahnya masing-masing hanya tersisa sekitar 100 individu di ekosistem alaminya. Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni mengingatkan bahwa badak jawa dan badak sumatera merupakan harga diri bangsa yang harus dijaga dalam peringatan Hari Badak Sedunia 2025.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli memperingatkan populasi dua satwa endemik asli Indonesia itu berada dalam kondisi terancam punah. “Temanya benar sekali, cinta badak, cinta Indonesia, bahkan cinta dunia, karena adalah harga diri kita,”kata Menhut saat peringatan Hari Badak Sedunia 2025 di Jakarta, kemarin. Spesies badak Jawa diperkirakan berada di bawah 100 individu.

“Untuk badak jawa populasi saat ini kita estimasi berkisar antara 87-100 individu dan kami yakin juga individunya kurang dari 100 ekor,” kata Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut Satyawan Pudyatmoko dalam peringatan Hari Badak Sedunia 2025 di Jakarta, Senin.

Kondisi serupa juga terjadi dengan spesies badak sumatra yang populasinya diperkirakan berada di bawah jumlah 100 individu tersebar di kawasan konservasi di Sumatra dan tersisa beberapa ekor di Kalimantan.

Dia mengakui bahwa sejumlah tantangan dihadapi oleh populasi badak asli Indonesia, yang statusnya masuk kategori kritis terancam punah dalam Daftar Merah yang dikeluarkan IUCN, tidak hanya sebatas ancaman perburuan. Terdapat juga tantangan ekosistem yang terfragmentasi dan potensi pernikahan sedarah (inbreeding) yang mengancam keberlanjutan populasi hewan tersebut. Oleh karena itu, Satyawan mengatakan

Kemenhut sedang melakukan sejumlah upaya untuk menambah populasi satwa terancam punah badak jawa yang spesiesnya hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Dalam Operasi Merah Putih yang diluncurkan pada awal September 2025, Kemenhut bekerja sama dengan TNI dan Yayasan Badak Indonesia (YABI) untuk memindahkan badak jawa dari Semenanjung Ujung Kulon menuju Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) yang masih berada di lokasi konservasi tersebut.

Selain itu, Kemenhut juga baru-baru ini bekerja sama dengan IPB University untuk mengembangkan bank hayati atau biobank dan penerapan teknologi reproduksi berbantu (Assisted Reproductive Technology/ART) untuk menambah populasi badak.

Sementara untuk badak sumatera, Kemenhut sedang mempersiapkan relokasi badak bernama Pari, satusatunya badak sumatra di Kalimantan yang berada di alam liar, untuk masuk ke kawasan konservasi in-situ.

Setelah sebelumnya berhasil mengamankan badak Pahu di Suaka Badak Kelian (SBK) di Kalimantan Timur. “Sekaligus juga nanti penyelamatan badak sumatera yang berada di Aceh, yang berada di luar Taman Nasion....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement