OPINI

Satu Abad NU: Perempuan sebagai Penyangga Moral, bukan sekadar Simbol

Jum, 06 Feb 2026

SATU abad Nahdlatul Ulama bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan momentum refleksi sejarah tentang arah, tanggung jawab, dan masa depan peradaban yang dipikul jam’iyah Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia. Dengan ratusan juta pengikut, NU menghadapi persoalan yang kian kompleks: gizi, literasi, pendidikan, keilmuan, kemandirian ekonomi, hingga krisis moral di era digital dan kecerdasan buatan. Di tengah pusaran itu, posisi perempuan NU menjadi kunci bukan pelengkap simbolis, melainkan penyangga moral umat.

Sejak awal, NU bertumpu pada tradisi pesantren yang memuliakan sanad, adab, dan tanggung jawab sosial. Kemuliaan manusia ditentukan oleh akhlak dan ilmu, bukan jenis kelamin. Karena itu, perempuan dalam kerangka keilmuan NU tidak pernah dimaksudkan sebagai warga kelas dua. Sejarah mencatat peran nyata perempuan melalui Muslimat dan Fatayat, juga figur seperti Nyai Khairiyah Hasyim yang membuktikan bahwa otoritas keilmuan dan kepemimpinan perempuan bukan pengecualian, melainkan bagian organik dari tradisi.

Namun, tantangan zaman berubah. Krisis literasi, stunting, disrupsi digital, dan kemerosotan etika menempatkan perempuan terutama ibu sebagai garda depan peradaban: pendidik pertama, agen literasi, sekaligus penanam nilai. Dalam konteks ini, perempuan NU memegang modal kultural yang besar: tradisi pengasuhan, pendidikan akhlak, dan kedekatan dengan kehidupan sehari-hari umat. Di tengah kemudahan akses pengetahuan, kebijaksanaan justru langka. Perempuanlah yang menjaga agar kemaj....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement