PERANG Iran-Amerika Serikat dan Israel sudah lebih sebulan, tapi belum juga ada tanda bakal berakhir. Perang yang semula bertujuan mengganti struktur kepemimpinan Iran, kini bergeser ke krisis energi global. Serangan balasan Iran dengan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, juga pangkalan militer AS di kawasan Teluk, semakin meningkatkan intensitas pertempuran. Iran pun kemudian menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata geopolitik untuk menekan AS dan sekutunya.
Selat dengan alur pelayaran efektif selebar 3 km ini mempunyai kedalaman 60-100 m. Lebih dari 20% pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz, menjadikannya jalur strategis perdagangan energi global. Kondisi pelayaran menjadi tantangan teknis bagi kapal tanker ultra large crude carrier, memaksa kapal bernavigasi presisi tinggi agar tidak kandas.
Kini kita sadar bahwa laut tidak sebatas ruang geografis semata, tapi juga panggung utama politik energi global. Lonjakan harga minyak, rantai pasok terguncang, dan stabilitas ekonomi global pun terancam. Krisis Hormuz menggambarkan laut telah b....

