DI balik kemegahan istana yang sarat tradisi, suasana sakral di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kini digantikan ketegangan. Setelah wafatnya Sri Susuhunan PakubuwonoXIII pada Minggu (2/11), sebanyak yang tercatat, kursi pewarisan segera menjadi sumber konflik terbuka.Tak lama kemudian muncul dua pihak yang mengeklaim takhta sebagai Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakubu-wono XIV, yakni putra beliau, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro, masing-masing dinobatkan faksi berbeda.
Dua kubu itu berseteru bukan semata atasnama darah, melainkan juga atas landasan adat yang berbeda:satu pihak memperjuangkan hak sesuai dengan urutan senioritas(putra tertua), sementara pihak lain menegaskan hak prerogatif susuhunan untuk menunjuk langsung pengganti.
Ketegangan memuncak hanya dalam kurun tigahari. Faksi yang didukung Dewan Adat menobatkan Hangabehi pada Kamis (13/11),sedangkan faksi istana menolak pengukuhan tersebut dan menggelar upacara Jumenengan Dalem bagi amangkunegoro padaSabtu (15/11).
Keadaan itu telah menempatkan keraton dalam zona abu-abu, antara hukum adat dan legitimasi modern, sementara pemerintah daerah memilih bersikap netral, menunggu titik te....

