DI antara rangkaian ritual Bersih Desa Blimbing, Topeng Kona menempati posisi paling istimewa. Tarian itu tidak boleh ditarikan sembarangan. Hanya keturunan Juk Seng atau Juk Singo Ulung yang berhak melakukannya sehingga setiap pementasan memiliki legitimasi kultural yang kuat. Aturan itu bukan sekadar tradisi, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap leluhur dan penjagaan kemurnian warisan budaya. Dengan demikian, Topeng Kona bukan hanya tari, melainkan juga simbol identitas dan kesinambungan nilai spiritual yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Topeng Kona berbeda dari tarian lain. Masyarakat percaya bahwa penari Topeng Kona ialah gambaran tokoh pendiri Desa Blimbing, yaitu Juk Seng atau Juk Singo Ulung. Gerakannya sarat makna, penuh simbolisme, dan tidak bisa ditafsir hanya sebagai pertunjukan seni. Penarinya selalu memakai topeng dengan busana merah menyala yang mencerminkan keberanian, warna yang juga sangat dekat dengan identitas etnik Madura.
Lebih dari sekadar tarian, Topeng Kona adalah 'pengesah' Ritual Bersih Desa. Tanpa tarian itu, ritual dianggap tidak sah. Warga percaya bahwa penari Topeng Kona menjadi medium yang menghubungkan manusia dengan dunia gaib, menghadirkan restu leluhur sekaligus melindungi desa dari bencana. Suasana ketika tarian itu dipentaskan sering digambarkan penuh dengan mistis. Gerakan penari, denting musik, dan doa yang menyertainya menciptakan suasana yang membuat bulu kuduk merinding. Bagi warga Blimbing, inilah inti dari keseluruhan upacara.
SHARE THIS

