OPINI

Virus Nipah

Jum, 20 Feb 2026

HINGGA Februari 2026, belum ada kasus positif infeksi virus Nipah di Indonesia. Meskipun demikian, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan perlunya kewaspadaan tinggi karena virus zoonosis mematikan ini berisiko menular melalui kelelawar buah, babi, atau antarmanusia, dengan gejala mirip flu berat hingga ensefalitis (radang otak). Apa yang perlu dicermati?

Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 selama wabah di antara para peternak babi di Malaysia. Pada 1999, wabah dilaporkan di Singapura setelah impor babi sakit dari Malaysia. Tidak ada wabah baru yang dilaporkan dari Malaysia atau Singapura sejak 1999. Pada 2001, wabah infeksi virus Nipah terdeteksi di India dan Bangladesh. Di Bangladesh, wabah telah dilaporkan hampir setiap tahun sejak saat itu. Pada 2014, wabah dilaporkan di Filipina tanpa kasus baru sejak saat itu. Di India, wabah dilaporkan secara berkala di beberapa bagian negara, termasuk yang terbaru pada 2026. Tingkat kematian kasus diperkirakan 40% hingga 75%, sebuah tingkat yang sangat tinggi.

Kelelawar buah dari famili Pteropodidae dianggap sebagai inang alami virus Nipah dan terdapat di berbagai bagian Asia dan di Australia. Infeksi virus Nipah tampaknya tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar buah. Penularan virus ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi seperti kelelawar, babi, atau kuda, dan dengan mengonsumsi buah-buahan atau produk buah, seperti jus kurma mentah, yang terkontaminasi oleh kelelawar buah yang terinfeksi. Virus ini juga dapat menyebab....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement