SUARA tawa Suti Karno masih sama seperti dulu, hangat, renyah, dan penuh energi setiap kali disapa orang. Wajahnya pun tak kehilangan senyum yang membuatnya dikenal jutaan penonton Indonesia lewat perannya sebagai Atun di Si Doel Anak Sekolahan, sinetron era 1990-an.
Namun, di balik senyum itu, ada perjalanan hidup yang tak pernah ia duga. Kini, Suti yang pakai kursi roda menjadi garda terdepan sebagai pembina Yayasan Solidaritas Difabel Indonesia (Yasdi), sebuah organisasi yang fokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas. Ia turun langsung, menyapa, menguatkan, dan menggerakkan teman-teman disabilitas untuk menciptakan inklusivitas.
“Kita mencari uang bukan buat kita, melainkan untuk anak-anak kita. Kalau niatnya baik, Allah pasti kasih jalan,” kata Suti dalam acara sunatan massal, Sabtu (21/6).
Perempuan kelahiran 27 April 1966 tersebut tumbuh di keluarga seniman. Ayahnya, Soekarno M Noor, ialah aktor senior, begitu pula kedua kakaknya, Tino Karno dan Rano Karno. Popularitas datang lewat karakter Atun yang ia mainkan dengan luwes. Namun, di balik layar gemerlap itu, ia menjalani pergulatan yang tidak pernah terbayangkan, hingga satu keputusan besar mengubah hidupnya.
ALAMI AMPUTASI
Diabetes yang ia derita selama 18 tahun perlahan merenggut kesehatannya. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis dan bersoda sejak muda, serta jarang minum air putih, menjadi bom waktu.
Luka kecil di dua jari kaki kanannya, yang awalnya dianggap sepele, berkembang menjadi ancaman serius. Aktivitas yang padat membuatnya terlambat mendapatkan perawatan, hingga sel-sel di kaki mulai mati. Lukanya yang menyebar membuat kakinya harus diamputasi.
Bagi sebagian orang, kehilangan anggota tubuh bisa memutus asa. Namun, tidak bagi Suti. “Kehilangan kaki saya bukan buat saya diam di rumah. Kita enggak pernah tahu, mungkin suatu hari kita sendiri jadi disabilitas. Bisa karena usia, bisa karena musibah,” tegasnya.
Kalimat itu baginya bukan sekadar peringatan, melainkan juga ajakan agar semua orang wawas diri dan mengingat bahwa kondisi fisik bisa berubah kapan saja. Saat itu terjadi, semua akan memahami betapa pentingnya lingkungan yang ramah dan setara.
Meski fisiknya berubah, Suti menolak untuk dikasihani. Lewat Yasdi, ia merangkul semua kelompok disabilitas tanpa membeda-bedakan. Ia percaya bahwa setiap langkah dapat menciptakan perubahan besar.
Kini, kesehatannya berangsur membaik. Berat badannya kembali normal, senyumnya tak pernah pudar. Hidup Suti memang mengubah langkahnya, ta....

