"SIMPLICITY is the ultimate sophistication.” — Leonardo da Vinci.
Di sepanjang sejarah peradaban, manusia selalu terpikat oleh bianglala kemilauan kemewahan. Dari istana Versailles yang dipenuhi kristal dan lukisan megah, kubah-kubah emas yang menjulang di Kremlin, atau aula megah Istana Potala yang berdiri di atas langit Lhasa, atau dari piramida Mesir, hingga Taj Mahal serta pencakar langit korporasi, kemegahan kerap dielu-elukan sebagai simbol absolutitas kejayaan dan keindahan.
Namun, di balik kilau itu, bersembunyi cerita panjang kebrutalan moral yang menyejarah. Manusia, kata pepatah lama, lebih parah jika dibandingkan dengan keledai karena mampu mengulang kesalahan yang sama tanpa belajar dari jejak penderitaan yang ia timbulkan. Kemegahan yang dibangun atas air mata rakyat, dari Prancis hingga Tiongkok, dari Sri Lanka hingga Nepal, bahkan dalam ironi kontemporer Indonesia—dengan megaproyek yang mengorbankan hutan dan kampung, atau pesta anggaran di tengah kelaparan—ialah ca....

