“WAR is the father of all things,” tulis Heraclitus lebih dari dua milenium lalu. Dalam pandangan filsuf Yunani itu, konflik bukan sekadar kehancuran; ia adalah mekanisme yang menguji keseimbangan dunia. Thucydides kemudian mencatat dalam kisah Perang Peloponnesian bahwa kemenangan dalam perang jarang ditentukan oleh kekuatan militer semata. Negara yang memiliki ketahanan ekonomi paling kuat biasanya bertahan paling lama.
Sejarah modern membuktikan bahwa perang hari ini tidak hanya terjadi di medan tempur. Ia juga terjadi di pasar energi, pasar obligasi, dan ruang fiskal negara. Sebuah konflik ribuan kilometer jauhnya dapat menjalar menjadi inflasi, pelemahan mata uang, dan tekanan pada anggaran negara.
Karena itu, ketika dunia kembali menatap Timur Tengah dengan kecemasan, pertanyaan bagi Indonesia bukan sekadar siapa yang akan menang dalam konflik tersebut. Pertanyaan yang lebih relevan ialah: berapa lama konflik ini akan berlangsu....

