“MIMPIKU ialah hidup bersama dan bersatu, menghormati asal-muasal, dan mengatasi semua perbedaan ras, bahasa, dan agama,” kata Djoeinah.
Pada 26 September 1920, berbicara di hadapan seribuan orang dalam pertemuan di Ungaran, kota pergunungan di Jawa, woro Djoeinah memaparkan panjang lebar penderitaan buruh dan keluarga mereka di tangan kaoem oeang (kaum berduit, kapitalis). Dia adalah perempuan pertama yang menjadi editor di surat kabar komunis Sinar Hindia.
Dalam pertemuan dan artikel koran, Djoeinah mengkritik keras pemerintah kolonial Belanda dan kaum kapitalis yang berkolusi mengeksploitasi dan menindas kaum buruh serta penduduk asli. Dia menyerukan rakyat Indonesia kelas bawah bergerak dalam keroekoenan (organisasi). Meski sering kali berbicara tajam tentang kolonialisme dan kapitalisme, Djoeinah tidak menyerukan kekerasan. Sebaliknya, dia mengadvokasi kaum buruh untuk menuntut kebebasan ....

