CERPEN

Kuburan Pasir Hitam

Min, 04 Jul 2021


Senja sedang berlabuh di pesisir pantai ketika segerombolan laki-laki memasuki rumah Slamet dengan mengacungkan benda-benda tajam—celurit, arit, kapak, golok, batu, dan balok kayu.

Rumah itu berada di antara rumah-rumah warga yang menghadap pantai Watu Pecak. Gunung Semeru berdiri gagah di belakangnya.
“Pukul!”
“Hajar!”
“Bunuh!” teriak mereka. Pintu-pintu didobrak. Lemari kursi digebrak. Genting-genting bergemeretak. Tak ada seorang pun yang mereka temukan. Tak ada siapa pun yang mereka lihat. Si empu rumah menghilang.

“Tukang protes keparat!” geram salah seorang di antara mereka sambil memukul televisi hingga remuk.
Tidak lama, mereka pergi, tidak sadar di dasar sumur seorang laki-laki meringkuk dengan mata nyalang.
***
Senja turun berlabuh di pesisir pantai saat Slamet duduk-duduk di atas gundukan pasir. Ia membiarkan dada bidangnya telanjang. Angin sepoi-sepoi dan aroma pantai memulihkan keletihannya selepas seharian menyiangi ladang. Hatinya sedang berbunga-bunga: batang-batang sengon telah sebesar paha, tongkol-tongkol jagung bertumbuh sempurna, larik-larik rumput gajah menghiasi pematang, dan cabai....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement