Kegiatan Ulin Bari Diajar Ngaguar Banjir Majalaya 2025 bukanlah inisiatif tunggal yang berdiri sendiri. Ia merupakan kelanjutan dari semangat yang tumbuh sejak Pengabdian Masyarakat ITB 2024 ketika para akademisi bersama Komunitas Siaga Warga Majalaya menggelar kegiatan edukatif di Majalaya dengan konsep belajar sambil bermain.
Jika 2024 difokuskan pada edukasi kebencanaan di wilayah terdampak langsung, 2025 membawa peserta ke sumber ilmu (kampus ITB Jatinangor) untuk melihat bagaimana banjir dipelajari melalui sains dan teknologi. Pergeseran lokasi itu bukan sekadar perubahan tempat, melainkan juga simbol transformasi pengetahuan: dari pengalaman lapangan menuju pemahaman akademik yang dapat memperkuat kesiapsiagaan komunitas.
Dosen dan mahasiswa ITB bertindak sebagai fasilitator pengetahuan, sedangkan komunitas relawan Majalaya berperan sebagai penghubung nilai-nilai lokal dan pengalaman lapangan. Sinergi itu melahirkan pembelajaran dua arah--kampus belajar dari masyarakat dan masyarakat belajar dari kampus. Model seperti itu sejalan dengan semangat living laboratory yang terus dikembangkan ITB: menjadikan kawasan yang terdampak oleh bencana sebagai ruang belajar bersama yang hidup dan berkelanjutan. Ketua Yayasan Jaga Balai Ahdan Syahru Ramdani menegaskan pentingnya menjembatani pengalaman warga dengan pengetahuan ilmiah. Ia mengaku senang bisa belajar langsung dari akademisi. Ia berharap ilmu tersebut bisa diterapkan saat mendampingi masyarakat menghadapi banjir di Majalaya.

