DUNIA maya baru-baru ini riuh oleh istilah sederhana: menulis halus. Istilah ini mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto prihatin melihat tulisan siswa SD yang semakin kecil dan sulit dibaca. Pernyataan itu memantik perbincangan publik—ada yang mendukung, bercanda, bahkan bernostalgia tentang tantangan menulis di buku halus-kasar masa kecil.
Di tengah derasnya arus teknologi, perhatian pada tulisan tangan terasa seperti langkah mundur. Namun, justru di situlah maknanya: menoleh pada keterampilan dasar yang terpinggirkan, padahal penting dalam proses belajar anak. Menulis tangan bukan sekadar aktivitas mekanis, melainkan cara anak berpikir, memahami, dan membentuk karakter. Fondasinya ialah kesiapan fi....

