SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah. Di satu sisi, keputusan itu menunjukkan adanya kemauan pemimpin untuk mendengar. Meskipun harus menunggu 'tekanan' dari publik, baik melalui media sosial maupun media arus utama, setidaknya masukan dari berbagai pihak pada akhirnya mampu menembus dinding tebal kekuasaan.
Namun, di sisi lain, kejadian itu menyisakan praduga kuat perihal absennya nalar empati seorang pemimpin kepada rakyat. Bayangkan, ketika baru saja menduduki kursi kekuasaan, hal pertama yang terlintas di benak gubernur justru kemewahan tunggangan, bukan beban hidup rakyatnya. Inilah potret buram yang memperlihatkan betapa tipisnya batas antara fasilitas negara dan syahwat kemewahan di kalangan pejabat.
Sebelum episode pengembalian mobil dinas itu muncul, publik terutama warga Kaltim memang sempat dibuat terperangah. Di tengah upaya daerah membangun infrastruktur dan membenahi kesejahteraan, muncul pengadaan kendaraan operasional dengan angka yang fantastis. Angka Rp8,5 miliar untuk satu unit kendaraan tidak saja menjadi jumlah yang terlalu ....

