PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu kebijakan sosial pemerintah paling ambisius dalam dua dekade terakhir. Dengan target menjangkau 83 juta anak usia sekolah, santri, balita, dan ibu hamil pada 2025, serta anggaran triliunan rupiah per hari, program ini dimaksudkan memperbaiki gizi anak dan menurunkan prevalensi stunting.
Namun, kegagalan operasional yang memuncak dalam serangkaian kasus keracunan menuntut satu pertanyaan sederhana: siapa yang paling tepat mengawal MBG agar bukan sekadar proyek birokrasi, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan gizi anak di akar rumput? Bagaimana memastikan makanan yang dibagikan benar-benar bergizi, aman, relevan dengan selera anak, sekaligus transparan dan akuntabel dalam pelaksanaannya? Jawabannya: perempuan.
Di titik inilah, keterlibatan perempuan menjadi kunci. Ibu rumah tangga, kader posyandu, anggota PKK, hingga pengelola kantin sekolah dan warung komunitas adalah aktor paling dekat dengan anak-anak. Mereka bukan hanya end user, melainkan juga knowledge holder, pemilik pengetahuan praktis tentang gizi, rasa, dan kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian, menempatkan perempuan sebagai garda depan MBG akan jauh lebih strategis ketimbang....

