PEMBANGUNAN pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan panel penerangan berbasis internet of things (IoT) di Nagari Sumpur Kudus menjadi bentuk nyata kolaborasi institusi pendidikan dengan masyarakat untuk pengembangan solusi energi yang bersih dan berkelanjutan dalam skala lokal. PLTS ini menggunakan empat panel surya yang secara keseluruhan memberikan daya maksimal 400 Wp (watt peak). Daya listrik DC yang dihasilkan kemudian masuk ke modul maximum power point tracking (MPPT) untuk mengendalikan pengisian baterai.
Baterai yang digunakan ialah baterai LiFePO4 atau biasa disebut LFP berkapasitas 12V 100 Ah. Daya dari baterai kemudian diubah menjadi listrik AC yang stabil menggunakan inverter dan listrik disalurkan ke beban seperti lampu dan perangkat elektronik. Sistem listrik ini dapat mengelola daya secara lebih baik dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar. Selain itu, sistem kelistrikan ini juga menggunakan pengamanan elektrik menggunakan circuit breaker dan fuse agar aman dari korsleting. Dengan begitu, penggunaan listrik lebih aman dan andal.
Penghubungan sistem listrik PLTS dengan pembangkit pikohidro dilakukan dengan menggunakan saklar otomatis yang disebut ATS. Saklar ini bekerja untuk mengubah sumber listrik yang digunakan jika sumber utama tidak memberikan listrik. Dengan begitu, saat listrik pembangkit pikohidro habis akibat kurangnya debit air atau terganggu sampah, sistem akan otomatis menggunakan listrik dari sistem PLTS. Jadi, ....

