OPINI

Sekolah di Tengah Luka

Sen, 16 Mar 2026

IDUL Fitri tahun ini mungkin terasa berbeda bagi saudara kita di Aceh. Pada momen kemenangan yang seharusnya dirayakan dengan sukacita dan pulang ke kampung halaman, sebagian justru kehilangan tempat pulang. Banjir besar November 2025 menyisakan duka yang belum usai, menjadikan perayaan tahun ini pengingat pahit bahwa bencana datang silih berganti.

Peristiwa itu bukan sekadar kabar duka di lini masa. Ia pengingat keras bahwa kita hidup di wilayah rawan bencana. Indonesia berada di Cincin Api Pasifik, pertemuan tiga lempeng dunia. Data BNPB menegaskan hampir seluruh Indonesia memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi dan geologi. Aceh bukan kali pertama berhadapan dengan 'air bah'. Masih segar ingatan tentang tsunami 2004, gempa Pidie Jaya 2016, hingga bencana yang silih berganti. Namun, setiap bencana menyisakan pertanyaan sama: ”Sudahkah kita menyiapkan pendidikan bangkit lebih cepat setelah bencana?”

Dalam menanggapi keadaan pascabencana, pemerintah bergerak memulihkan infrastruktur. Jalan dibuka, jembatan diperbaiki, sekolah dibersihkan dari lumpur. Namun, pendidikan bukan hanya soal bangunan. Terdapat anak-anak yang kehilangan rutinitas, guru yang ikut menjadi korban, dan trauma yang tak kasatmata. Pendidikan darurat bukan pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak untuk mencegah lost generation di titik-titik terdampak. Sayangnya, di sejumlah lokasi terdampak banjir Aceh 2025, aktivitas belajar lumpuh hampir dua bulan. Anak-anak kehilangan arah, guru kehilangan pegangan, dan negara tidak s....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement