Taman Mini Indonesia Indah (TMII) memang penuh nilai sentimentil. Gagasan Ibu Tien Soeharto untuk menyajikan seluruh Nusantara dalam jangkauan selemparan batu itu, benar-benar cemerlang. Ide gemilang itu mirip dengan impian Bung Karno, untuk menyajikan gelora simbolik nasionalisme, melalui sebuah menara megah yang kemudian diberi nama Monumen Nasional.
TMII juga bermanfaat besar bagi berjuta anak dan keluarga Indonesia. Lelah dengan buku teks, beragam pelajaran tentang keindonesiaan dapat diperoleh secara multi-indrawi di TMII. Karena ilmu psikologi yakin akan keunggulan metode belajar multisensori, pengalaman multisensasi di TMII pun akan bersemayam lebih indah, dan mantap, dalam kenangan kolektif para pengunjungnya. Inilah proses belajar terbaik yang dapat dilakukan anak-anak kita.
TMII kini menghangat lagi. Seingat saya, TMII pernah ramai diberitakan saat mahasiswa menentang rencana pembangunan TMII. Biaya miliaran rupiah untuk masa itu memang tergolong tinggi, dan itu dianggap sebagai penghambur-hamburan uang. Protes itu memang masuk akal. Tahun 1972, Indonesia baru saja bersungguh-sungguh menggerakkan roda ekonominya. Jadi, masuk akal ketika Pak Harto didesak agar memprioritaskan program-program pemban....

