DUNIA intelektual baru saja menundukkan kepala, mengantar kepergian Jürgen Habermas dalam usia 96 tahun. Sang begawan teori kritis yang menghabiskan hampir seabad usianya untuk memimpikan sebuah ‘agora’-- ruang publik yang di dalamnya manusia saling memanusiakan melalui kekuatan argumen, bukan kekuatan fisik. Habermas meninggalkan warisan pemikiran yang fundamental tentang arti kebebasan yang tak terisolasi kekuasaan. Namun, tepat saat dunia merenungi cita-cita luhur tersebut, sebuah ironi yang getir terjadi di Tanah Air atas peristiwa penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus.
Peristiwa ini menyentak nalar kita dengan satu pertanyaan perih, apakah ruang publik yang diimpikan Habermas sebagai ‘proyek yang belum tuntas’ itu kini sedang sekarat di tangan intimidasi fisik? Jika Habermas meyakini bahwa demokrasi hidup dari napas komunikasi yang rasional, maka air keras yang melukai raga aktivis adalah bentuk komunikasi yang paling purba dan brutal. Dalam perspektif komunikasi politik, tindakan ini bukanlah sekadar kriminalitas jalanan, melainkan sebuah komunikasi teror yang dikonstruksi secara paksa sebagai pesan simbolis untuk membungkam setiap suara yang berani menyodorkan realitas alternatif di l....

